Piala Dunia vs Piala Daerah

Pesta itu kembali datang, akan datang, dan mungkin sudah datang.

Mendengar kata ‘pesta’ tentu tak bisa lepas dari hiruk-pikuk kerumunan banyak orang, sebuah euforia yang tinggi dalam merayakan suatu momen. Sebuah momen dengan segala persiapan penuh dan menguras tenaga, pikiran, juga isi dompet.

Saat ini perhatian dunia tertuju ke sebuah negara dari para tokoh fenomenal seperti Lenin, Trotsky, Gorbachev, dkk. Rusia tepatnya. Ada 32 negara kontestan yang sedang bertarung untuk memperebutkan singgasana sebagai raja dunia di olahraga sepakbola. Piala Dunia 2018, dengan segala warna-warni dari para garis pendukung setiap negara, juga aktraksi dari ratusan pemain dengan berbagai latar belakang. Jangan lupa dengan jumlah uang jutaan dollar yang berhamburan baik dalam bentuk hadiah, sponsor, dan lain lain. Ada Brasil dengan gaya samba-nya, Spanyol lewat tiki-takanya, Jerman dengan kekuatan Panzer-nya turut juga Islandia dengan kegigihan bangsa Viking-nya! dan banyak negara lagi.

Setiap hari dalam sebulan akan disuguhi pertandingan antara tim yang siap berjibaku merebut bola dan tentunya sebuah kemenangan adalah suatu keharusan demi keharuman nama negara yang dibela. Setiap tim dari negara akan tampil dengan kekuatan terbaik demi memperebutkan trofi yang dibuat oleh seorang seniman berkebangsaan Italia, Silvio Gazzaniga. Trofi yang dulu dikenal dengan trofi Jules Rimet. Untuk catatan, Italia tidak ikut hadir dalam pesta kali ini.

Hal ini linier dengan sebuah pesta yang akan dihelat pada bulan yang sama di sebuah “negeri amplop” kalau Gus Mus bilang. Hehe. Tidak lain tidak bukan, negeri itu bernama Indonesia.

Pilkada Serentak

Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) kali ini berbarengan dengan Piala Dunia yang sedikit saya ulas diatas, akan dilaksanakan pada 27 Juni 2018 nantinya. Di berbagai daerah akan melaksanakan pesta dalam memperebutkan trofi ‘Piala Daerah’ secara serentak. 

Trofi ini tentunya tidak kalah menarik dari trofi yang akan diperebutkan di Russia nun jauh disana. Jauh dari  meja mungil tempat saya menulis catatan ini yang semoga tidak dicap ‘unfaedah’ oleh segerombolan anak-anak millenial, semoga. 

Di berbagai daerah yang sengaja saya rahasiakan namanya, baik tingkat provinsi maupun kabupaten, kick off kompetisi ini sudah dimulai jauh sebelum kick off piala dunia yang digelar beberapa hari lalu.

Setiap kandidat calon kepala daerah melakukan kampanye dengan gaya main masing-masing. Mungkin dengan gaya bertahan, menyerang atau dengan buat panggung dangdutan semalam suntuk. Setelah dikenakan nomor punggung dari pihak KPU, mereka juga mencetak jersey dan pernak-pernik lainnya untuk menarik simpati pendukung juga sebagai simbol dalam merayakan euforia di pilkada serentak ini. 

Jika piala dunia digelar empat tahun sekali, sedikit berbeda dengan pilkada yang dihelat sekali lima tahun. Jika sebuah negara pemenang trofi piala dunia akan dikenang selama empat tahun, berbeda dengan pemenang trofi ‘piala daerah’ yang akan diuji selama lima tahun oleh pendukung maupun yang bukan pendukungnya sebelumnya. Jika tim di turnamen ‘piala dunia’ berusaha mencetak gol sebanyak mungkin, berbeda dengan para kandidat di turnamen ‘piala daerah’ yang berusaha mendapatkan suara pemilih sebanyak mungkin.

Pemenang trofi ‘piala daerah’ dengan suara terbanyak akan duduk di singgasana selama lima tahun sekaligus diuji bagaimana mewujudkan visi-misinya selama 5 tahun. Syukur-syukur kalau tidak ‘ngebet’ memakai rompi oranye dari KPK, bisa-bisanya cuma setahun. Oops.

Warung kopi sebagai saksi sejarah
Di tengah ramainya orang-orang yang merayakan perebutan dua trofi ini, kehadiran warung kopi jangan dipandang sebelah mata. Orang-orang yang hanya bisa menonton dari layar kaca tentunya lebih memilih hadir di sebuah warung kopi yang menyajikan acara nonton bareng piala dunia. Sembari menyeduh kopi, seperti kopi gayo, kopi papua, atau mungkin kopi sidikalang yang sudah tersohor kemana-mana, orang-orang di  perbincangan ini juga tidak luput membahas pilkada ala-ala politisi yang serba tahu segalanya. 

Warung kopi pun hadir sebagai saksi sejarah juga para peminum kopi sebagai pengamat dadakan untuk memastikan netralitas dari pihak wasit FIFA dalam perebutan trofi ‘piala dunia’ juga netralitas KPU sebagai penyelenggara turnamen ‘piala daerah’.

Masih ada banyak waktu untuk memastikan pilihan dalam menjagokan negara yang bertarung di turnamen Piala Dunia 2018 ini, juga memastikan pilihan dalam mendukung kandidat yang layak didukung di turnamen ‘piala daerah’ kali ini.

Jadi buat pemilih pemula atau pemilih stok lama jangan mau beli kucing dalam karung. Beli kucing masa dalam karung, belum tentu suara “meong”  isinya kucing, bisa- bisa didalamnya keong sawah berkedok kucing. Hehehe.

Hanta Yuda salah seorang pengamat politik dari salah satu lembaga survey di Indonesia, mengatakan ada 3 (tiga) kriteria pemilih, antara lain pemilih dengan kriteria psikologis, sosiologis, dan rasional. Pemilih Psikologis adalah orang yang memilih berdasarkan sosok kandidat yang tegas, muda, menarik atau dengan kata lain ‘ganteng’ dan lain sebagainya, pemilih sosiologis adalah memilih lewat indentitas suku, agama, dan sebagainya, dan yang rasional adalah pemilih yang memahami visi-misi, melihat track record si kandidat, dan sebagainya.

Soal pilihan semua kembali ke tangan anda-anda sekalian, saya tidak bermaksud menggurui atau mendikte. Karena saya hanyalah mahluk biasa, manusia yang tidak sempurna. Klasik.

Sekedar tambahan ada juga pemilih yang memilih tidur di rumah karena begadang dan kecapekan nonton  piala dunia sampai subuh, atau asik kerja malah lupa datang ke TPS. Hehew.

Selamat menikmati Piala Dunia 2018

Selamat memilih

Coretan seorang laki-laki yang sedang berjuang untuk memakai toga,

Samuel Nababan
 

 

Advertisements

Merdeka (lah)

Betapa semaraknya ketika rakyat indonesia merayakan ulang tahun Indonesia di hari ini, usia ke-72 tahun!

Usia yang apabila ditokohkan, adalah usia yang sudah tua untuk meniup lilin 72 buah. Usia dimana saatnya untuk menikmati hasil jerih-payah dari perjalanan perjuangan selama 72 tahun.

atau jangan-jangan…

Ini hanya seremonial semata, rutinitas yang diadakan sekali setahun di tiap tanggal 17 Agustusnya.

Dimana kita hanya tahu untuk berdiri berbaris upacara serapi mungkin, menancapkan bendera, memasang umbul-umbul, memakai pita, atau di kalangan anak remaja kekinian dengan mengecat wajah yang semuanya itu dihiasi corak warna MERAH-PUTIH.

semoga tidak…

Karena sejatinya ini bukan hanya soal perayaan tahunan semata, tapi kita harus dapat memaknai kemerdekaan lebih jauh dan bila perlu menyelaminya sedalam mungkin dan jangan lupa kembali ke permukaan. Hehehe.

Merdeka berarti bebas, tapi saya tidak menekankan di kata ‘bebas’nya. Tetapi lebih ke bagaimana menikmati kemerdekaan yang secara merata dan adil tanpa ada diskriminasi kenikmatan.

Kemerdekaan ialah hak segala rakyat bukan segelintir penguasa ataupun hanya untuk kalangan yang berada. 

Kemerdekaan harus sampai ke akar rumput! Sampai ke lorong-lorong jalan, kolong-kolong jembatan, kaki-kaki lima, dari sabang sampai merauke.

Bagaimana petani mengatakan merdeka, ketika tempat untuk menanam padi pun sudah menjadi lahan ‘real estate’, bahkan ketika memiliki lahan untuk ditanam, masih saja merintih dengan harga jual hasil panen yang merosot tajam.

Bagaimana nelayan mengatakan merdeka, ketika hanya bisa merana ketika ikan-ikan di laut Indonesia sudah malu-malu untuk menampakkan diri, dan ketika pun ada tangkapan ikan hanya bisa berserah pasrah kepada cengkeraman tangan tengkulak.

Bagaimana buruh pabrik mengatakan merdeka, ketika bekerja tak kenal siang malam tapi malah masih mencicipi upah yang murah.

Bagaimana para aset dan generasi bangsa mengatakan merdeka, ketika untuk menjangkau pendidikan harus mengemis dan berjuang mengumpulkan rupiah sebanyak mungkin.  Yang masih harus bermimpi untuk mendapatkan pendidikan gratis.

Bagaimana pulak jutaan rakyat Indonesia yang harus berjuang menghidupi dirinya bahkan bertarung meregang nyawa ketika biaya untuk kesehatan harus dibayar mahal.

Bagaimana kita mengatakan merdeka ketika masih melihat kemiskinan, pengangguran, korupsi, dan Diskriminasi SARA yang terus membumbui perjalanan bangsa ini.

Miris?

Tragis lebih tepatnya.

Saya tertarik dengan perayaan ulang tahun negeri ini dengan salah satu perayaan ulang tahun negeri ini. lomba panjat pohon pinang.

 Ada sebuah filosofi pada lomba panjat pinang, dimana dalam mencapai pohon pinang yang berpuncakkan bendera kebangsaan merah putih, dibutuhkan gotong royong, bahu membahu, saling menopang, dimana yang ada adalah ‘super team’ bukan ‘superman’. Dan tentunya hadiah yang bergelantungan dinikmati bersama-sama.

Begitu juga dengan kemerdekaan Indonesia yang sudah diraih oleh pejuang-pejuang kita dulu adalah tidak lepas dari persatuan visi dan sama-sama bergerak untuk menegaskan bahwa negeri Indonesia adalah negara yang bisa lepas dari kungkungan bangsa asing selama ratusan tahun!

tetapi,

Setelah Indonesia berhasil lahir dengan Proklamasi yang diketik Sayuti Melik dan dibacakan Bung Karno tepatnya 72 tahun yang lalu di Pegangsaan Timur, merdeka yang seharusnya dinikmati dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote, sampai saat ini belum dinikmati bersama-sama. Kemerdekaan hanya dinikmati oleh mereka yang dapat berkuasa, yang lebih necis pakaian dan lebih wangi bau badannya. Hanya segelintir orang yang dapat mengatakan merdeka dan benar-benar menikmatinya ataupun orang-orang yang merasa merdeka.

Bukan petani yang merintih di sawahnya, nelayan yang merana di sampannya, buruh pabrik yang minum keringatnya sambil berbalutkan kepulan asap, atau para anak-anak muda yang hanya bisa memimpikan sekolah tanpa harus dibenturkan pada isi kantong saku.

Oleh sebab itu, supaya kata ‘merdeka’ bergema di seluruh NKRI, haruslah semua benar-benar menikmatinya bukan hanya meneriakkannya.

Hingga petani tidak takut lagi bertanam, nelayan tidak takut lagi melaut, buruh pabrik akan lebih giat bekerja dan para calon generasi bangsa tidak takut lagi untuk belajar dimanapun berada.

Inilah yang harus terwujud, sembari mencapai cita-cita Pancasila khususnya sila kelima. 

Semoga.

Semoga juga di usia Republik Indonesia  yang ke-73 Tahun nanti, tulisan ini tidak muncul lagi dengan isi yang sama. Hehehe.

MERDEKA LAH INDONESIA!!!

Oleh:  SAMUEL NABABAN